TERPANCING

TERPANCING.


   Tahun 1964, saya sudah tingkat 4 Faperta Unpad, sudah tidak ada kuliah lagi. Dari pada tinggal di rumah, beberapa kali ikut Bapak saya naik mobil dinas ke Jakarta. Route jalannya rumah> Jl. Raya Barat> Cimahi> Padalarang> Cianjur> Puncak> melewati Kebun Teh Gunung Mas> Bogor> Cibinong> Jl. Pattimura Jakarta, yaitu Kantor Besar Departemen  PU.

Setiap kali saya melewati kebun teh Gunung Mas, saya memperhatikan papan nama hitam besar berbentuk panah dan tulisan putih W. Palmer.

Siapakah dia yang tinggal di villa kebun itu? Enak bener dia bisa tinggal di situ, saya juga ingin bisa tinggal di sana untuk membaca buku, berjalan-jalan di kebun dan melukis.

Jabatan resminya William Palmer adalah Direktur Persatuan Asosiasi Pengusaha dan Pengimpor Film AS (PAPFIAS). Sesungguhnya dia punya jabatan yang lebih penting lagi yaitu sebagai Agen CIA.

Saya mengerti bahwa dia agen CIA karena sekira tahun 1975 saya membaca buku Mirror of Deception  karangan Gunter Peis yang mendapat keterangan dari seorang agen Cekoslowakia yang membelot ke Barat.

 Pada tahun 1964 itu Pentagon sangat kewatir karena diramalkan beberapa negara Asia Tenggara akan segera jatuh ke tangan  komunis. Negara-negara itu adalah Vietnam, Indonesia dan Pilipina. Di  Vietnam ada pemberontakan Vietcong, di Pilipina ada pemberontak Huc Balahap dan di Indonesia ada Partai Komunis Indonesia.   

Diramalkan analis politik Pentagon bahwa dengan anggota 2 juta orang, dengan militansi dan kaderisasi yang berdisiplin, dalam beberapa tahun lagi PKI akan berkuasa melalui makar atau memperoleh suara terbanyak di DPR.

Karena anggotanya banyak, partainya besar, semangatnya tinggi, anggota-anggota PKI melakukan tindakan anarki di Jawa Timur, Bali dan Sumatera Utara dan beberapa tempat lainnya. Mereka menyerang jamaah sholat di beberapa tempat di Jawa Timur, membunuh kader PNI di Bali dan menganiaya Letnan Soedjono di Kebun Bandar Betsy di Sumatra Utara untuk menduga-duga apakah pemerintah berani bertindak hukum terhadap PKI.

Pemerintah tidak dapat tegas menyalahkan tindakan yang melawan hukum itu. Tindakan hukum akan disoroti dan dilawan dengan berbagai alasan oleh anggota-anggota PKI di DPR. Tindakan kriminal dan pembunuhan dicampuraduk dengan politik.

Secara tradisional di beberapa negara, Partai Komunis sering melakukan coup d’etat dalam mendapatkan kekuasaan.

Pentagon mendapat gagasan untuk memancing PKI untuk melakukan makar lebih awal dari pada nanti berkuasa.  Pentagon membuat sebuah rencana palsu seolah-olah Inggris dan Amerika, akan mendukung jenderal-jenderal TNI AD yang akan melakukan coup d’etat. Pancingan itu harus dilaksanakan sesegera mungkin agar persiapan makar PKI karena takut kedahuluan, dilakukan dengan  tergesa-gesa.

 

Palmer mencari blangko surat Kedutaan Besar Inggris. Dari blangko surat itu diketiklah seolah-olah sebuah surat dari Duta Besar Inggris, Gilchrist kepada Duta Besar Amerika Serikat Howard Jones menceritakan bahwa mereka harus membantu “our local army friends”. Surat itu tentu saja ditandatangani oleh “Duta Besar Inggeris Gilchrist” dan surat bertanda “secret “ itu lalu disimpan oleh Palmer di villanya di Kebun Gunung Mas.(Kalau benar, rencana seperti itu kok pakai surat ya?  Bertanda “secret” lagi. Lalu suratnya dibawa-bawa ke Gunung Mas...lucu  ya)

       Informan CIA di Serikat Buruh Perkebunan (Serbupri) mengojok-ojok Serbupri agar menyerbu ke villa Palmer di Gunung Mas itu. Tentu saja sudah diatur agar pada waktu penyerbuan Palmer tidak di villa. 

        Surat itu ditemukan dan dari Serbupri di serahkan ke     Sekjen Jenderal Comite Central PKI,  D.N. Aidit. Aidit percaya bahwa surat itu authentic.

Tipuan CIA kepada PKI dipercaya oleh PKI. Dalam laporan D.N. Aidit kepada Presiden Soekarno,  Aidit menyatakan mempunyai bukti yang authentic  bahwa TNI AD akan melakukan makar dibantu Amerika Serikat dan Inggris.

       Berdasarkan surat yang “authentic” itu, PKI lalu mengadakan demo di Kedutaan Besar Amerika Serikat dan di Kedutaan Besar Inggris di mana kemudian  gedung Kedutaan Besar Inggris dibakar.

Berdasar surat itu pula PKI sangat kewatir bahwa rencananya untuk menguasai negara  bisa berantakan bila TNI AD mendahului melakukan coup d’etat. Karena itu dengan tergesa-gesa dari pada kedahuluan, direncanakanlah makar yang diawali dengan pembunuhan terhadap para jenderal. Dimulailah Gerakan 30 September (Gestapu)

.Our local army friends yang ditulis oleh “Duta Besar Inggris” itu oleh PKI dinamai “Dewan Jenderal”

 Dewan Jenderal yang sebetulnya memang tidak ada, karena itu sesudah kejadian makar,  Jenderal Nasution mengatakan bahwa AD difitnah. Kalimat Jenderal Nasution yang terkenal waktu itu diambil dari salah satu ayat Qur’an: Fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan.

 

Sardjono  Angudi, 21/05/2020 diperbaiki 27/02/2023

 

Komentar